8:50 PM

baca juga

A. KEPRIBADIAN
1. Pengertian kepribadian

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kepribadian diartikan sebagai sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakannya dari oorang lain atau bangsa lain. Pendapat para ahli tentang kepribadian adalah sebagai berikut :
a. M.A. W. Brower mengatakan bahwa kepribadian merupakan corak tingkah laku social yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini dan sifat-sifat seseorang
b. Theodore R. Newcomb mengatakan bahwa kepribadian adalah organisasi sikap-sikap (predispositions) yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku
c. J. Milton Yinger mengatakan bahwa kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seseorang dengan system kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi
d. John F. Cuber mengatakan bahwa kepribadian adalah gabungan dari sifat-sifat yang tampak dan dapat dilihat oleh seseorang
e. Allport mengatakan bahwa kepribadian adalah organisasi yang dinamis dari system psiko-fisik yang unik (khas) dari diri individu yang turut menentukan cara-cara penyesuaian dirinya dengan lingkungan

Kepribadian atau personalitas dapat di definisikan sebagai ciri watak seorang indifidu yang konsisten memberikan kepadanya suatu identitas sebagai indifidu yang khas. Kepribadian merupakan organisasi dari factor- factor biologis, pesikologis dan sosiologis yang unsurnya adalah pengetahuan, perasaan dan dorongan naluri

Tahap Perkembangan diri manusia :
a. Tahap persiapan (preparatory stage)
b. Tahap meniru (play stage)
c. Tahap bertindak (game stage)
d. Tahap menerima norma (generalized others)
Keterangan :
George Herbert Mead menjelaskan bahwa diri manusia berkembang secara bertahap melalui interaksinya dengan anggota masyarfakat yang lain, mulai dari play stage, game stage, dan generalized other.
Tahap 1: Preparatory
• Dalam tahap ini individu meniru perilaku orang-orang yang ada di sekitarnya, tetapi belum mampu memberi makna apapun pada tindakan yang ditiru.
• Merupakan peniruan murni.
Tahap 2: Play Stage
Play Stage, atau tahap permainan, anak mulai memberi makna terhadap perilaku yang ditiru. Mulai mengenal bahasa. Mulai mendefinisikan siapa dirinya (identifikasi diri) sebagaimana definisi yang diberikan oleh significant other. Significant other merupakan orang yang secara nyata penting bagi seseorang dalam proses sosialisasi. Bagi anak-anak dalam tahap play stage, orangtua merupakan significant other. Bahkan, anak-anak tidak dapat memilih siapa significant other-nya! Ketika ada yang menyapa: “Hi, Agus”, maka anak mengerti: “Oh – aku Agus”. “Hi, Pintar”. “Oh, aku pintar”. “Bodoh banget kamu”. “Oh, aku bodoh banget”, dan setertusnya. Definisi diri pada tahap ini sebagaimana yang diberikan oleh significant other.
Tahap 3 Game Stage
• Tahap ini berbeda dari tahap permainan, karena tindakan meniru digantikan dengan tindakan yang disadari.
• Tidak hanya mengetahui peran yang dijalankannya, tetapi juga peran orang lain dengan siapa ia berinteraksi.
• Bisakah Anda membedakan antara “bermain bola” dengan “pertandingan sepakbola”? Bermain bola dapat dilakukan oleh anak-anak pada yang telah mengalami sosialisasi tahap play stage, tetapi bertanding sepakbola baru dapat dilakukan oleh anak-anak yang telah mengalami sosialisasi pada tahap game stage. Mengapa demikian? Karena dalam pertandingan sepakbola ada prosedur dan tatacara yang harus ditaati. Anak-anak akan memahami tentang prosedur dan tatacara apabila telah mengalami sosialisasi pada tahap game stage.
Tahap 4: Generalized Other
Pada tahap ini individu telah mampu mengambil peran yang dijalankan oleh orang-orang dalam masyarakatnya, ia telah mampu berinteraksi dan memainkan perannya dengan berbagai macam orang dengan status, peran dan harapan yang berbeda-beda dalam masyarakatnya.

Menurut Freud ada 9 mekanisme pertahanan diri dalam diri individu, yaitu sebagai berikut :
a. Repression (represi). Pengalaman menyakitkan akan ditekan kea lam ketidaksadaran
b. Reaction formation (pembentukan reaksi). Individu bereaksi sebaliknya dari yang diinginkan agar tidak melanggar norma-norma.
c. Displacement (penempatan diri yang tidak tepat). Pihak ketiga yang menjadi sasaran karena ia tidak mampu melakukan kepada pihak kedua
d. Projection (diproyeksikan). Kesalahan sendiri dilemparkan atau dituduhkan kepada orang lain
e. Rationalization (mencari pembenaran). Mencari alasan yang masuk akal untuk menutupi kesalahan/kekurangan
f. Surpression (menekan diri). Menekan dorongan yang dianggap melanggar nilai/norma ke alam ketidaksadaran
g. Sublimation (mencari tindakan yang lebih sesuai). Dorongan atau keinginan yang dilarang oleh superego (akal sehat), tetapi tetap dilakukan dengan tindakan yang lebih sesuai dengan norma yang berlaku
h. Compensation (kompensasi). Menutupi kekurangan diri sendiri dengan cara berprestasi dalam bidang lain
i. Regression (regresi). Menutupi kelemahan atau kegagalan dengan cara kembali ke taraf yang lebih rendah. Contoh : pura-pura sakit, pura-pura tidak mengerti, berperilaku seperti anak kecil
Previous
Next Post »
0 Komentar

Loading...